Seorang anak manusia terdampar
Ditengah hamparan permata
Diantara deretan gelar dunia
“Wahai dunia, kau telah kutaklukan, namun mengapa ?
Mengapa kau tidak mampu memberi makna
Hingga tak dapat kubedakan
Hidup atau matikah aku………
( Percikan Iman )
Beberapa minggu terakhir ini, sebagai pengelola pendidikan, kami sangat sibuk menyiapkan penerimaan mahasiswa baru. Seluruh koleksi buku-buku pengembangan diri dikumpulkan untuk dibahas sebagai materi yang akan disampaikan selama orientasi mahasiswa baru. Untuk membangun karakter seseorang yang telah dibentuk orangtuanya selama 18 tahun bukanlah suatu hal yang mudah.
Materi kekuatan perusahaan dari zona nyaman ke zona tidak nyaman menjadi perhatian saya. Dalam keseharian sebagai ibu dan pendidik saya menyadari saat ini sedang membentuk karakter manusia untuk bersedia melakukan transformasi dari zona nyaman ke zona tidak nyaman sementara pada saat yang sama saya justru harus ikut bertumbuh untuk mengikuti transformasi itu
Zona tidak nyaman, merupakan proses dari manusia untuk “naik kelas”. Bisa kita bayangkan, sedang nyaman tidur dan istirahat di kasur yang empuk. Kita malah di wanti-wanti untuk sholat tahjjud sebagai media paling afdol untuk mendekatkan dengan sang pencipta. Sedang enak-enak bekerja menjadi anak kuliahan lagi untuk lanjut mengambil S2.
Sebenarnya zona tidak nyaman, hanyalah pada saat awal pembiasaan. Sebagai contoh, semua orang yang mulai membiasakan dirinya untuk olah raga 30 menit setiap hari. Pada awalnya kita harus bersusah payah melawan malas dan bosan. Jika tetap konsisten lama kelamaan olahraga itu menjadi kebutuhan dan dialkukan dengan “fun” senang.
Pada saat usia kita sudah terbiasa membaca buku-buku ‘berat’, ternyata harus kembali membaca buku-buku yang digemari remaja karena ingin berempati dengan anak yang akan memasuki usia baligh.
Banyak zona tidak nyaman yang harus kita masuki dengan sebenarnya kita ‘tidak suka’. Tetapi ternyata zona tidak nyaman itulah yang akan semakin mendewasakan kita. Kalau semua orang hanya menyukai zona nyaman, mungkin tidak ada orang yang bertumbuh, “The common denominator of success” yang ditulis oleh E.M Gray mengatakan, ‘orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak suka dikerjakan oleh orang gagal’, Mereka belum tentu suka mengerjakannya. Namun, ketidaksukaan mereka tunduk pada kekuatan tujuan mereka.
Tujuan atau mimpi yang akan dan ingin kita capai mendorong kita masuk dalam zona tidak nyaman. Kita berjuang keras untuk terus menerus berada disana dan lama-kelamaan zona tidak nyaman menjadi hal yang biasa untuk kemudian menjadi zona yang nyaman. Untuk bisa melakukan perubahan-perubahan hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, kita membutuhkan suatu zona baru yang boleh jadi zona baru itu akan menjadikan anda manusia baru “ Building a new you “ Wallahu a’lam.
Rabu, 11 Februari 2009
ZONA TIDAK NYAMAN
Posted by susi at Rabu, Februari 11, 2009 0 comments
KARAKTER TIDAK DIBENTUK SECARA INSTANT
Masih ingat dengan pribahasa ‘ Anda selalu menuai apa yang anda tabur ?’ begitu juga dengan karakter anak-anak kita. Mulai dari memilih pasangan seperti apa yang akan kita nikahi, yang akan menjadi ayah atau ibu anak-anak kita. Kita seperti sedang memilih warna-warna kehidupan yang akan mewarnai sang anak. Lalu 20 tahun yang akan datang warna itu akan semakin jelas kelihatan, sesuai dengan warna yang kita pilih 20 tahun yang lalu. Ada slah satu komentar seorang Ayah ‘Putera saya yang masih remaja suka memberontak dan menggunakan obat bius. Apapun yang saya coba lakukan, ia tidak mau mendengar. Apa yang dapat saya lakukan ?’ mungkin Bapak tadi perlu kilas balik, sewaktu memilih pasangan hidupnya wanita seperti apa ? Bukankah salah satu hak anak adalah memiliki ibu yang baik ?
Beberapa kali saya mendengar dari teman-teman yang suaminya baru saja jadi epjabat kecil-kecilan, diwajibkan mengikuti etika kepribadain di Jakarta. Tentu saja pakai dana APBD. Merekapun pergi berombongan. Memang Etika KEpribadian dapat menggunakan tehnik mudah dan cepat, yang mungkin dapat berhasil dalam jangka pendek. Semua yang diperbaiki seputaran etika luar-luarnya saja. Bisa kita bayangkan, ibu-ibu yang sudah dia atas kepala empat itu memfokuskan pada teknik bersikap intelek dengan belajar sebanyak mungkin secara tergesa-gesa dalam waktu singkat. Kita memang dapat menggunakan Etika Kepribadain untuk lulus dan membuat kesan yang baik, melalui pesona dan keahlian serta berpura-pura tertarik pada pembicaraan orang lain. Akan tetpai etika Kepribadian tidak akan pernah mempunyai manfaat permanen dalam hubungan jangka panjang. Pada hakikatnya, siapa kita apa adanya berkomunikasi jauh lebih fasih dibandingkan apapun yang kita katakana atau kerjakan. Saya sering kasihan kalau mendengar komentar ibu-ibu pejabat yang sedang membahas suatu permasalahan sering tidak jelas juntrungannya agar terkesan pandai oleh audiens padahal professional yang dengar sering pening. Bagaimanpun mereka memperbaiki cara duduknya, lapisan bedaknya, sangat terlihat tegang seperti memakai topeng. Tetapi ini memang khas tipikal ibu-ibu pejabat daerah yang baru saja dapat rejeki nomplok dari sistem otonomi daerah dengan DAU yang sangat besar. Seperti dapat lotre, bingung bagaimana mengalokasikan uang dan bagaimana harus bersikap karena keterbatasan pengetahuan.
Kembali ke persoalan anak-anak kita tersayang pewaris bangsa 20 tahun yang akan datang, kalau kita hubungkan dengan kisah ibu pejabat tadi, bahwa karakter anak dibentuk hari demi hari. Seperti sebuah rajutan, tidak ada yang instan. Dibentuk petlahan sehingga anak memiliki kekuatan karakter yang mendasar dari segi intelektual dan akhlak. Harga harus dibayar dan proses harus diikuti. Anda selalu menuai apa yang anda tabur, tidak ada jalan pintas. Pengakuan sosial akan bakat anak kita, harus diikuti dengan kebesaran atau kebaikan primer di dalam karakter mereka. Dalam kata-kata William George Jordan, “Ke dalam tangan setiap indivisu diberikan kekuasaan yang mengangumkan untuk berbuat baik atau jahat – pengaruh yang diam, tidak disadari, tidak terlihat dari kehidupaannya. Ini benar-benar merupakan pancaran konstan dari siapa orang itu sebenarnya, bukan sosok pura-pura yang ia perankan, “ Wallahu’alam”.
Posted by susi at Rabu, Februari 11, 2009 0 comments
KASIH SAYANG TANPA SYARAT
“Anak saya yang berumur 2 tahun itu, memang beda bu, Dia susah diatur, beda dengan kakaknya. “ Saya dengar kata-kata itu dari seorang ibu sekitar 3 tahun yang lalu, dan waktu bertemu lagi dengan teman itu beberapa bulan yang lalu, dia amsih membicarakan anak yang nomor 2 tetap dengan label yang sama. Anaknya yang nomor dua itu masih susah diatur, dan ternyata susah diatur disini maksudnya identik dengan prestasi di sekolah yang jelek, tidak sopan dan sering bikin masalah. Selalu saja kita tanpa sadar ada pamrih terhadap anak. Anak-anak kita akan mengharunkan nama orangtuanya dengan prestasi yang segunung. Atau dalam iklan-iklan sering kita dengar, ada seorang anak yang juara, lalu ayahnya berkata : “ itu baru anak ayah “.
Anak-anak kita juga setiap di kondisikan kasih sayang dengan syarat, syarat untuk mendapatkan pengakuan bahwa dia anak kita, adalah prestasi. Kalau anak-anak ibarat cermin orangtuanya, mungkin “susah diatur”, tadi adalah sudah pola pendidikan yang tidak teratur. “Kasih Sayang tanpa syarat” diperlukan oleh anak agar dalam perkembangan, tidak dalam keadaan tertekan agar mereka dapat tumbuh dengan wajar.
Ketika kita benar-benar mengasihi orang lain tanpa syarat, tanpa ikatan, kita membantu mereka merasa terjamin dan aman serta diteguhkan dalam nilai esensial, identitas dan integritas mereka. Kita member mereka kebebasan untuk berbuat menurut tuntutan batin mereka sendiri dan bukan bereaksi terhadap persyaratan dan keterbatasan kita. Hal ini tidak berarti kitab menjadi pemisif dan lunak. Kita menasehati, kita memohon, kita menetapkan batas, dan konsekuensi. Tetapi meski begitu, kita tetap mengasihi.
Sewaktu anak ingin tumbuh menjadi diri mereka sendiri, sementara ayah dan ibunya mempunyai perencanaan masa depan sesuai dengan peta pemikiran mereka saat ini. Padahal anak itu akan tumbuh tidak pada zaman mereka. Didiklah anak sesuai dengan zamannya kata Imam Ali, Anak hanyalah boneka ambisi orangtua. Akibatnya anak tertekan tidak menjadi dirinya sendiri dan orangtua juga frustasi jalan hidup anaknya tidak sesuai dengan skenario yang telah mereka rancang sejak bayi. Ada juga orangtua yang berusaha memahami, tetapi Sebagian besar selalu ada ancaman yang terselubung. Kasih sayang hanya akan diberikan jika anak memenuhi persyaratan sesuai dengan keinginan orang tua. Itulah yang dinamakan kasih sayang dengan syarat. Dapat kita bayangkan, anak-anak menjalani harinya seperti pedagang di pasar. Dia belajar tunggang langgang bukan karena ingin berprestasi tetapi semata-mata agar tidak mendengar kata-kata orangtua yang melecehkan dan sinis jika tidak berprestasi. Bukankah sebagai manusia, anak-anak dikaruniai potensi manusiawi yang unik ?
Kasih sayang tanpa syarat justru akan membuat anak merasa aman. Semakin akan merasakan suatu kasih sayang yang tulus dan ia diterima apa adanya maka ia akan berusaha keras memberikan yang terbaik untuk orang yang mengasihinya secara penuh. Seluruh potensi yang dimilikinya akan dipersembahkan dengan penuh perasaan pada orangtua yang ikhlas tanpa pamrih . Wallahu’alam.
Posted by susi at Rabu, Februari 11, 2009 0 comments
KETERAMPILAN PEKERJAAN DI RUMAH
Beberapa tahun yang lalu, sewaktu kita fikir pelajar kepemimpinan hanya untuk pemimpin negara dan perusahaan, banyak orang tua yang amsih bangga kalau keman-mana ditemani baby sistter lengakap dengan seragam yang biasanya berwarna putih atau biru muda. Ibunya akan memanggil "suster" terhadap pengasuh anak tadi. Dengan baby sitter menunjukkan suatu status sosial tertentu. Mungkin sekarang masih banyak kita temukan ditempat-tempat umum. Bagian dari ilmu kepemimpinan adalah "understandingself", termasuk di dalamnya memimpin diri sendiri.
Bagi ibu-ibu yang bekerja, jasa babby sitter terasa sangat diperlukan. Tetapi, ada kalanya keterusan sampai anak dewasa. Apakah dampaknya ? Ternyata anak-anak yang memiliki 'bodyguard' ini, bersikap bossy atau ngebos. Mereka mulai mengerti bahwa suster itu digaji orangtuanya untuk melayani seluruh keperluan dia. Pihak sekolah selalu kesulitan karena nilai-nilai yang diajarkan disekolah sangat berbeda dengan yang diterapkan di rumah. ada Suster, yang setiap anak majikannya pulang sekolah berusia 10 tahun, langsung membukakan sepatu, mengambilkan minum, mengambilkan baju ganti, dan handuk bahkan menyiapkan makanan, padahal anak tadi sehat walafiat tetapi diperlakukan seperti anak cacat fisik. Ada juga bukan oleh suster, tetapi oleh nenek yang terlalu sayang pada cucunya. Atau oleh ibunya sendiri karena kurang pengetahuan. Jangan heran, jika anak-anak pejabat atau pengusaha sukses yang jam terbangnya di luar sangat tinggi banyak memiliki anak yang 'aneh'. Dikelas maunya diladeni, cepat merajuk, dan kasar terhadap teman-teman. Akhirnya mereka dikucilkan. teteapi sewaktu orangtua diajak mendiskusikan dengan psikolog sekolah, orang tua yang bersangkutan malah bingung, karena merasa telah memenuhi seluruh keperluan anaknya.
Apapun status kita, anak ternyata perlu bersama-sama dengan orangtuanya pernah memasak, mencuci piring, mencuci baju, membersihkan rumah, walaupun hanya sebulan sekali. Atau ia diberi tanggungjawab tertentu seperti membersihkan kamarnya sendiri, mencuci piringnya sehabis makan siang dll. Mengapa ? untuk menanamkan nilai-nilai, bahwa pekerjaan itu sangat diperlukan jika suatu waktu dia tidak bersama kita. Selain itu menekankan bahwa pekerjaan rumah sangat mulia dilakukan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah yang melakukan sendiri keperluan pribadinya. Disamping itu akan menanamkan rasa rendah hati dan mampu bekerjasama dengan orang lain. Sehingga ia tidak kaget melihat kenyataan diluar. Pernah anak seorang teman, sesampainya di Jerman untuk keperluan studi, menemukan abnyak masalah. Bahkan karena otaknya bodoh, tetapi semua keterampilan rumah tidak sanggup dia lakukan bahwa memasak air sekalipun. Perasaan gamang muncul sewaktu harus melakukan sendiri segala sesuatu untuk keperluan dirinya.
Keterbatasan waktu karena kesibukan mencari uang dan mengejar eksistensi diri sering melenakan orangtua, bahwa dia sedang diberikan amanah berupa manuasia, bukan benda.
Posted by susi at Rabu, Februari 11, 2009 0 comments