BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 29 Mei 2009

Cerita dulu, cerita sekarang, baca dulu baru terbilang

Awalnya, duluuu, aku fikir, kita perlu banyak penjelasan dari peristiwa-peristiwa, awalnya kecewa, sedih, marah, hampa, kesal, sinis, heran, ingin balas dendam, ingin pura-pura lupa, ingin acuh saja, ingin tak peduli…..tapi kenapa tidak dibicarakan saja, kenapa harus lari kucing-kucingan, dibicarakan saja yuukkk
Kan gini….
Duluuuuuu, Orangtua mereka masih berfikir, mereka berkeluarga sedang main-main.
Padahal mereka sedang serius diajak bertransaksi amanah oleh Allah SWT. Tidak tanggung-tanggung, langsung dikaruniai dua dalam jangka waktu dua tahun. Tentu saja ini kontrak yang serius, bukan? Mereka dititip 2 nyawa, 2 kehidupan, 2 jiwa dan 2 harga diri.
Karena mungkin mereka fikir, mereka sedang main-main, jadilah bermain peran bohong-bohongan.
Nyawa, kehidupan, jiwa dan harga diri yang dititipkan tadi, jumlah sel dan ukuran selnya terus bertambah dan bertumbuh. Mereka semakin mirip dengan manusia. Semakin Utuh fisiknya. Tapi agak bingung jiwanya.
Waktu itu sepertinya orangtuanya pun kalau bisa dua orang yang dititip tadi lenyap saja, tak usah ada di muka bumi. Tak diinginkan dan tak diperlukan….mengganggu saja, risih. Bikin malu kalau dibaca curriculum vitae, mengenai jumlah istri, jumlah anak, jadi risih. Rupanya kedua orangtua sebagai penyebab 2 anak tadi hadir di dunia memutuskan berpisah saja, sudah bosan katanya. Ingin berpasangan dengan yang lain. Ingin tantangan yang seru, ingin kehidupan baru. Sudah bosan ya….Makanya, mereka fikir mereka main-main sedang dititipkan sesuatu.
Al hasil, dengan sembarangan, titipan Tuhan tadi ditarok di sembarang tempat dan pada sembarang orang, seperti sebungkus tas kresek hitam berisi bungkusan makanan basi.
Tetapi dua jiwa yang baru bertumbuh itu tak paham, tetap merasa berharga diri. Tetap merasa sudah sewajarnya, dia menjalani hidup seperti itu. Ya….seperti itulah. Kalau saja dia tahu, banyak sekali haknya yang terabaikan. Semata-mata karena orangtuanya ingin mainan lain yang lebih seru di luar sana…Kalau saja dia tahu, pasti dia akan kerahkan ibu warung, abang tukang kebun, teman main kasti, teman main kelereng, abang cina jualan es cincau untuk ikut bersamanya berdemonstrasi besar-besaran sambil membawa spanduk,’Hargai kami, jangan main-main terus. Dewasalah. Seriuslah dengan kehidupan’. Ada lagi spanduk yang berbunyi,’ Kami juga manusia’. Ada lagi yang berteriak.’ Tanggungjawab,donk…plis deh ah’. Tapi tidak ada demo, tidak ada protes, jalani aja, ada nafas, ada nyawa, jadi harus hidup!
Akhirnya, waktu berjalan juga….setelah bertahun-tahun, kehidupan petualangan kedua orangtuanya semakin kacau balau. Ntah kenapa. Ntah jenis apa lagi yang mereka inginkan, apakah seperti mendaki gunung Fuji, gunung Kilimanjaro, atau berenang di lautan pasifik, berjuang di belantara Tibet, ntah apalah….Ntah apa di benak mereka. Apakah karena jumlah adrenalin pada darah mereka meledak-ledak, atau mereka belum juga mampu berdamai dengan dirinya sendiri…..Bergidik juga 2 manusia yang sudah mahasiswa itu. Mereka malah bersyukur sekarang, bagaimana seandainya mereka tumbuh bersama dengan orangtua yang bahkan dirinya saja tak kunjung tunduk dengan jiwanya sendiri. Mana bisa jiwa yang tak akur dengan raga itu bisa mengatur jiwa dan kehidupan oranglain, walau orang lain itu darahnya sendiri. Tak bisa, mereka tak pantas dititipkan apapun oleh Tuhan.
Kalau saja semua organ di tubuhnya, mata, hati, pikiran, tidak saling akur, wajar saja Allah memberi sebab sehingga dua manusia yang dititip tadi dicerabut dari kehidupan mereka, bukan dengan kematian tetapi dengan peristiwa. Ya…peristiwa perceraian tadi. Jadi tidak lihat, tidak sentuh, tidak rasa hal-hal aneh dan tak wajar yang seharusnya tak disaksikan oleh jiwa-jiwa yang masih seperti tanah liat itu.
Apa dampaknya?
Jangan salah, karir dua jiwa tadi meledak-ledak, kerja tak habis-habis. Terus mengalir….seperti orang yang tak dapat berhenti sejenak kecuali oleh tidur. Jangan kasi kesempatan otak dan hati berkelana, terus saja mereka bergerak, berkarya. Kenapa harus begitu? ‘Pengen aja’, jawab mereka ringan. Lucu…Lucu……Semua orang berdecak kagum dan bertepuk tangan melihat prestasi kedua manusia titipan tadi.Hebat…hebat….’Suka hatilah, mau hebat atau tidak, aku ya begini saja,gumamnya dalam hati. Tapi tiba-tiba matanya terbeliak , dengan ekspresi muak,waktu ditengah tepuk tangan itu ada yang menyapa ‘Sungguh, sangat bijaksana orangtua yang telah membentuk kalian, saya perlu tiru langkah-langkah mereka, agar anak-anak kami seperti kalian’……………’Sudah. Sudah, hentikan semua tepuk tangan itu!’
Mereka beranjak pergi sambil menggerutu, dan menuliskan besar-besar di blognya,’banyak orang gila di luar sana, kalau saja yang menitipkan kami tidak campur tangan, pasti kami sudah dimakan ikan hiu, dikunyah buaya, ditelan ular, diinjak gajah dan ditendang gorila’.Mereka tidak tau, kalau Sang Pemberi Amanah lah yang menyelamatkan terjangan binatang buas, yang membuat skenario sehingga mereka bisa seperti sekarang ini, bukan siapa-siapa, bahkan bukan 2 jiwa, 2 harga diri, 2 nyawa dan 2 kehidupan itu yang berperan……apalagi 2 orangtua mereka. Bukan.
Sekali lagi, B U K A N.
Begitulah, happyending 2 manusia korban orangtua yang terlalu lama menemukan jati dirinya itu. Masih banyak kisah-kisah anak lain, yang berakhir di mulut singa, di kolong jembatan, di rumah yatimpiatu,di genggaman germo, banyaaak yang miris-miris. Jadi bersyukurlah selamat dari lubang jarum kehidupan. Masih diselamatkan. Masih diselamatkan….CEPAT-CEPAT IA KOMAT KAMIT MEMBACA DOA Rabbi aw zi’ni anasykuro…di surat Al Ahqaf, ayat 15.

Pekanbaru 26 Mei 2009, jam 14.00
Susiana tabrani’
cerita ini buat kakakku, dian.
Kenangan di dalam parit. Ada sepat lalu ditangkap. Cerita ini memang pahit Dibaca saja jangan diungkap.

0 comments: