BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 03 Februari 2009

Ibu-ibu Indonesia yang Perkasa

Usia manusia adalah kehidupan yang dilaluinya sejak lahir.
Usia manusia adalah kumpulan waktu
sejak keluar dari rahim ibu
hingga nafas berpisah dengan jasad
Waktu adalah kehidupan
Khozin Abu Faqih

Dalam buku David Schwartz dikatakan, lebih baik memberi tugas pada orang yang sibuk. Orang sibuk cenderung lebih sistematis dan bisa mengatur waktu. Tetapi orang yang terbiasa banyak waktu luang, terutama yang diamnya tidak berfikir maka orang tersebut ada kesulitan menyelesaikan tangungjawabnya secara sistematis. Merasa sangat sibuk tetapi kurang ada keteraturan berfikir terstruktur. Lalu bagaimana seandainya pada keadaan yang sangat sulit seperti saat ini. Harga bensin naik, diikuti harga semuanya. Bagaimana untuk ‘survive’? Apakah pernah seorang ibu curhat sambil demo karena tidak cukup uang belanja, bayar SPP, bayar rekening dsb? Semua rasa gundah dan cemas sudah tidak berarti apa-apa lagi. Yang jelas spesies yang kuat sajalah yang bertahan di Indonesia ini kalau tidak mau jadi gembel atau gelandangan. Seluruh beban derita yang semakin berat ini tetap harus ditanggung dan diatasi. Mau ngantri minyak tanah, tidak masalah, mau menghirup asap tebal, tidak apa-apa, mau dinaikkan ongkos angkot, pasrah aja, mau dinaikkan seluruh kebutuhan pokok, setuju-setuju lah. Seperti manusia apatis. Tak berasa .Tak bergeming. Sepedih apapun stimulus yang datang, tetap disambut dengan hati lapang. Sifat sabar mempunyai ruangan yang sangat besar di dalam setiap relung jiwa ibu-ibu yang ada di Indonesia. Mereka bagaikan pahlawan yang gagah menghadapi lawan berupa kemiskinan , kelelahan fisik dan emosi. Selagi jasad ini diberi jiwa, ibu-ibu di Indonesia tidak akan menyia-nyiakan energi yang ada dalam dirinya untk tetap menjaga seluruh anggota keluarga mempunyai nafas dan kehidupan. Darah yang mengalir di tubuhnya, oksigen yang dihirupnya, sel-sel saraf yang terus berfikir, tidak akan membuatnya lelah. Life must go on. Que sera-sera, whatever will be will be. Hidup harus tetap berjalan. Apapun yang terjadi, terjadilah.
Kalau setiap ibu sibuk dan tegang dengan berfikir terus menerus untuk ‘survive’, kemudian menjadi ibu bengis yang eksplosif meledak-ledak. Cemas beras habis, cemas kontrakan habis, cemas tidak bisa bayar ini itu. Ada sejuta cemas. Tidak ada lagi uang yang mau dibagi dan dialokasikan. Betul-betul habis. Ludes dipertengahan bulan. Apakah ibu-ibu dengan suasana hati seperti ini yang akan mendidik anak-anak bangsa? Apakah ibu yang seperti ini bisa mengantarkan anak-anaknya jadi manusia bijaksana? Atau yang diwarisi hanyalah anak-anak kurang gizi yang jiwanya sakit karena sering dihardik tanpa sebab. Padahal sang Ibu sedang menghardik dan sangat membenci dengan segenap hatinya seorang musuh besar yang bernama KEMISKINAN. Wallahua’lam.

KEHILANGAN ASA

Kita semuanya terpenjara, namun beberapa diantara kita berada dalam sel berjendela. Dan beberapa lainnya dalam sel tanpa jendela.
Kahlil Gibran

Perubahan tentang cara berpikir dan bertindak banyak diharapkan orang untuk maju. Ternyata ada saat atau momen, titik semangat kita berada di level terendah. Perubahan kadang tidak memberi apa-apa. Membuat kita kehilangan asa. Sampai pada titik jenuh. Mungkin harapan yang semestinya terus disiram oleh semangat kehidupan. Mungkin karena itulah peraih Nobel dalam sastra dari Rusia –Tolstoy melakukan bunuh diri dalam gerbong kereta api barang pada musim dingin. Setelah membuat karya besar dan berada di puncak tidak tau lagi puncak mana lagi yang mau di daki. Keputusasaan kadang bukan datang dari kesulitan-kesulitan. Tetapi lebih banyak datang dari rasa kehampaan. Nelangsa. Begitu pula dengan penulis kenamaan Virginia.W yang menenggelamkan dirinya di dasar laut dengan masuk ke dalam karung yang dibebani batu. Kehampaan bisa menjadi musuh besar harapan. Sementara sang pemelihara harapan sedang perlu diberi api semangat untuk menyalakan harapannya.
Tidak selamanya seorang ibu akan menjadi sumber energi anak-anaknya. Juga tidak selamanya seorang suami akan menjadi sumber energi keluarganya. Ada saat-saat kita kelelahan, jenuh dan tidak ingin menjadi sumber energi siapa-siapa. Sementara pada saat menjadi pemimpin, kita selalu diharapkan menjadi lokomotif penggerak orang lain. Terus menerus memberikan getaran-getaran emosi untuk meraih impian. Mungkin karena inilah orang yang sangat rasional, apabila mengikuti pelatihan spiritual menjadi kurang rasional. Setiap orang rindu dengan oase yang jernih. Oase yang dapat menampung semua gundah dan letih. Merindukan bertemu dengan orang-orang bijak dan beristirahat. Kelelahan emosional ini membuat tokoh spiritual menjadi idola, dianggap yang paling memahami apa yang kita rasakan. Ustadz yang karismatik, pintar, menyejukkan, melakukan apa yang ia katakan seolah memberikan jawaban dalam proses ‘spiritual journey’ (proses mencari kebenaran) pada orang-orang lelah tadi. Berbagai pelatihan spiritual menjadi laris manis. Walau beban belum tentu berkurang, tetapi minimal kita sedang diberi waktu melepaskan lelah.
Berjalan mengarungi dunia ini tanpa keyakinan akan membahayakan. Kadang salah pilih panutan. Salah arah. Salah mengambil keputusan. Menjadi manusia dungu tanpa pedoman yang jelas. Pesona sesaat kemudian kita dibiarkan sendirian mengarungi ‘spiritual journey’. Tanpa bimbingan. Tanpa follow up. Seolah setan telah berhenti bekerja mengobarkan putus asa, jenuh , lelah dan surut ke belakang menyuarakan kebenaran. Mungkin saja para ustadz tadi sebagai manusia biasa juga punya banyak kepentingan. Kepentingan yang berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain. Akhirnya sampai juga kita pada suatu kesimpulan, bahwa dalam proses ‘spiritual journey’, orang lain hanyalah fasilitator. Penggerak utama dalam mengobarkan kembali daya juang dan menetapkan kita dalam ‘track’ atau jalur yang benar adalah antara saya dan aku saja. Orang diluar diri benar-benar hanya fasilitator. Itu saja. Wallahua’lam.

Kecerdasan Seni

Pernahkah anda melihat lukisan Monalisa karya Leonardo da vinci. Mungkin dari majalah atau televisi. Atau membaca puisi-pusi Iqbal, Kahlil Gibran, bahkan Taufiq Ismail. Kita selalu terpesona dengan kata-kata pada puisi yang mengajarkan kehidupan. Puisi membuat jiwa kita kaya. Ada keindahan yang tersirat, juga sarat dengan makna. Roger Sperry menemukan bahwa otak belahan kanan berurusan dengan berbagai kegiatan irama, kesadaran ruang, daya khayal, kesadaran holistik, melamun, warna dan dimensi. Sementara otak kiri lebih banyak berurusan dengan kata-kata, logika, angka, urutan, linieritas, analisis dan daftar.
Banyak orangtua yang mengasah jiwa seni anaknya dengan memasukkan anak les piano. Keindahan dalam suara piano, memang bisa membawa suatu inspirasi. Memberikan ide-ide sewaktu dalam kesendirian menikmati lantunan musik yang keluar dari jari-jari yang menari. Leonardo da vinci, seorang seniman dan ilmuan, bukan dari keluarga kaya, bahkan pendidikan formalnya juga sederhana. Beliau mengungkapkan salah satu kunci suksesnya adalah pelajari seni ilmu pengetahuan dan pelajarilah kesenian. Kemampuan kita mengoptimalkan menggunakan otak kiri dan otak kanan membuat kehidupan kita menjadi seimbang. Malahan kalau kita perhatikan, Jepang sangat bangga dengan adat istiadatnya. Pelajaran sastra Jepang dan seni budaya mereka dimasukkan dalam kurikulum. Kita juga bisa melihat mereka melatih keindahan dari seni melipat kertas origami yang erat kaitannya dengan ketelitian dan kerapihan. Sehingga souvenir yang sangat kecil sekalipun selau berada dalam kemasan yang sangat cantik dan rapi. Semakin tinggi kemakmuran seseorang memang membuat mereka lebih banyak memikirkan detail, bukan?
Kalau dengan kesenian bisa merangsang kreativitas, membuat jiwa tenang dan dapat mengistirahatkan otak kiri sesaat, lalu kenapa anak-anak kita tidak kita coba perkenalkan dengan seni sejak dini? Saya juga telah membaca buku ilmuwan Islam seperti Ismail Alfaruqi, Abdullah Nashih Ulwan dan Naquib Al-Attas. Dalam karya-karya mereka yang sangat banyak itu, selalu terdapat syair yang indah di dalamnya, bahkan mampu memberikan sentuhan estetika pada bangunan universitas yang didirikan. Karya-karya yang dilahirkan dari jiwa-jiwa yang kaya dengan seni membuat karya tersebut memiliki ruh yang kuat untuk mempengaruhi jiwa orang yang membacanya.
Anak-anak yang terbiasa mendengarkan puisi dan dilatih menulis puisi biasanya mempunyai jiwa yang lebih peka. Empati dan terbiasa mengungkapkan berbagai perasaan sedih, senang, kesal dan marah dalam bentuk puisi akan memperkaya pribadinya. Mungkin keindahan adalah bagian dari fitrah yang diberikan Allah karena Allah Maha Indah.Wallahu’alam.

Karnaval demi karnaval

Kita tak bisa mengajari orang apa pun;
kita hanya bisa membantu mereka
menemukannya di dalam diri mereka sendiri
(Galileo Galilei)

Dalam satu tahun terakhir, ada beberapa episode yang menyita perhatian besar masyarakat kita. Kasus demi kasus. Mulai busung lapar. Lalu kasus flu burung yang membuat semua orang sangat takut dengan ayam dan telur. Kemudian kasus demam berdarah. Disusul dengan kekerasan terhadap anak yang tetap berlangsung. Dilanjutkan lagi dengan keegoisan oknum yang menjadikan formalin sebagai bahan pengawet pada sumber protein. Terakhir ide gila menerbitkan majalah Play Boy versi Indonesia. Lalu ntah apa lagi. Semua orang menyikapinya dengan berbagai reaksi. Ada yang reaktif, ada pula yang apatis. Memaki pelaku, mengecam. Membuat seminar. Ibu-ibu rumah tangga membuat langkah siaga. Tidak tau lagi apa yang mau dimakan. Semua merasa terancam. Tidak tau harus bagaimana. Padahal belum habis terkejut dengan lonjakan dahsyat kenaikan BBM, baru mau manata diri untuk adaptasi.
Kapan waktunya kita bisa tenang berfikir, mencari solusi, jika hanya disajikan dengan episode-episode yang membahayakan jiwa. Seolah-olah emosi kita terbuat dari baja. Dibantai oleh badai-badai peristiwa. Tanpa ada solusi yang jelas, sebuah penyelesaian. Seperti menyaksikan sebuah parade. Mengagumkan sesaat. Kemudian berlalu. Semua orang kembali makan ayam dengan lahap. Parade peristiwa yang dihebohkan oleh media perlahan berlalu. Hanya seperti itu saja. Kering makna. Bahkan kematian seorang anak akibat kekerasan orangtuanya sendiri tidak lagi menggugah. Kita berlindung pada setiap kematian sebagai ajal yang sudah harus diterima, apapun penyebabnya. Tidak pernah menjadi cermin.
Tingkat pendidikan masyarakat yang mayoritas rendah mengakibatkan kurangnya daya analisa. Hidup hanya untuk hari ini. Kalau mau ‘survive’, sebagaimana dikatakan Darwin, kita memang harus bertahan. Spesies yang lemah akan punah. Akibat seleksi alam. Kalau sebagai professional, kita memang masih bisa bertahan dan tidak perlu makan tiwul, tetapi ntah bagaimana nasib saudara yang jauh di Jawa Timur. Padahal, kita menahan diri untuk tidak banyak menkonsumsi nasi agar tetap fit dan tidak kelebihan berat badan. Sementara saudara kita memang karena tidak ada nasi yang mau dimakan. Kalau mau kasar perasaan dan menutup kuping, kita bisa saja menganggap seluruh peristiwa setahun terakhir hanyalah karnaval yang numpang lewat di salah satu ruang perasaan. Kemudian kita kembali beraktivitas seperti tidak ada yang terjadi. Perasaan kita dingin, tak peduli.
Dalam satu kesempatan di Roma, saya diingatkan berkali-kali untuk berhati-hati dengan pickpocket atau copet. Setelah saya tanyakan, berapa kasus dalam bulan ini kejadian copet. Ternyata bisa dihitung dengan jari. Tetapi bagi mereka, sudah merupakan peristiwa besar. Sensitivitas orang lain lebih tinggi, mungkin karena mereka jarang melihat peristiwa dahsyat seperti di negara kita yang tak pernah henti dengan peristiwa spektakuler menyedihkan. Namun hanya bagai karnaval sesaat. Walahua’lam.